Rabu, 20 Januari 2016

Kerinduan Anak Pada Ayahnya

Selamat pagi Pembaca dan sahabat kak Adi


Disaat pagi hari aktivitas saya mengajar dan berangkat lebih awal.Sehingga belum sempat bangunin anak-anak pada usia 5.5th Hajied dan Azzam 3.5th. Biasa harus lebih awal untuk tidak berebut jalan dengan pengendara lain he he.. 

Rutinitas dari jam 5.45 atau jam 6.00 paling telat untuk bisa sampai ke Sekolah. 2002 sampai 2010 saya mengajar di Mts al-hadiqoh lalu berpindah ke Jatiwaringin MA Al-Ihya Jatiwaringin.Selang beberapa bulan saya ditawarkan mengajar bahasa inggris di MTs As-Syafi'iyah 03 ada kurang lebih 7tahun berkiprah disana.
i
Saya banyak bersyukur,dan menghasilkan lulusan yang mau belajar dan meningkatkan kualitas diri baik EQ dan IQ.Karena sebagian dari mereka berada dilingkungan yang hedonis.Akhir 2010 saya mencoba hijrah ke SD sangat terkenal di Jakarta SD PUTRA 1-saya menjadi pembelajar baru,beradaptasi,dan menimba banyak ilmu baik administratif,kepemimpinan yang di buat sistem rolling (bergantian) agar mampu mengenal siapa yang di pimpin,dan siap memimpin. Hal ini sudah saya dapatkan di Gontor.

Karena hanya bisa bermain bersama anak,waktunya sangat pendek dan sebentar.Di saat saya libur sekolah tentunya libur panjang akhir tahun 2011.Saya mencoba mengajak bermain,bercanda dan berenang. Saat itu anak saya yang kedua Azzam berkata ..'Ayah libur yang lama donk' Mas pengin main,dan ikutan ayah kemana-mana..Hemm.. bathinku 'Aku juga pengin semua waktu untuk mu nak' baru bisa disaat liburan panjang. Gumamku...semoga suatu saat saya dapat menemani anak2 hingga tumbuh kembangnya lebih baik.

Disela-sela aktivitas saya mengikuti perkembangan Medsos dan ngintip Pak @JamilAzzaini baik di webnya,maupun di twitternya.Energinya luar biasa,bahkan saya Niat untuk mengikuti kelas WBT.Walau harga terbilang Mahal saat itu 3,5jt. Pikirku uang dari mana ya?' ternyata...ada jalan bila Kita Niat!

Akhirnya dapat ikut WBT8 kaget,senang,dapat tambah teman dan jadi gelas kosong yg benar-benar mau ngomong apa kalo giliran ke depan.Blank..Trainin selama 3 hari dapat merubah cara bicara,pola struktur isi materi,dan bagaimana berpengaruh dalam delivery.

Disinilah saya Niat untuk menjadi Trainer dengan softskill yang memadai.Namun,ada kelas lebih tinggi yakni Advance TbnC (Training Booth And Camp) Ajang Adu kompetisi dengan para trainer yang sudah memiliki Jam terbang 6000 sampai 10.000 Jam. Pastinya piawai dalam penyampaian.Makin yakin 3 hari bersama @Akademi_Trainer saya Berdo'a lagi ..'Ya Allah semoga saya menjadi Orang yang bermanfaat & dekat dengan Keluarga' saya sampaikan kepada keluarga..dan juga teman trainer saat itu.Berada bersama orang2 yang positif doapun dapat di kabulkan.

Kerinduan pada anak,kini kapanpun bisa diatasi dari mulai bangun pagi,sholat di masjid untuk jumatan,dan mengajarkan sedekah di tromol masjid.Makan bersama-sama sungguh Nikmat ini ku dapatkan.Maha benar Allah atas segala Firman-Nya.

Salam sukses
@DongengKakAdi

Cerita Rakyat Karang Bolong

sahabat kak adi...



Cerita Rakyat Jawa Barat
Beberapa abad yang lalu tersebutlah Kesultanan Kartasura. Kesultanan sedang dilanda kesedihan yang mendalam karena permaisuri tercinta sedang sakit keras. Pangeran sudah berkali-kali memanggil tabib untuk mengobati sang permaisuri, tapi tak satupun yang dapat mengobati penyakitnya. Sehingga hari demi hari, tubuh sang permaisuri menjadi kurus kering seperti tulang terbalutkan kulit. Kecemasan melanda rakyat kesultanan Kartasura. Roda pemerintahan menjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya. “Hamba sarankan agar Tuanku mencari tempat yang sepi untuk memohon kepada Sang Maha Agung agar mendapat petunjuk guna kesembuhan permaisuri,” kata penasehat istana.
Tidak berapa lama, Pangeran Kartasura melaksanakan tapanya. Godaan-godaan yang dialaminya dapat dilaluinya. Hingga pada suatu malam terdengar suara gaib. “Hentikanlah semedimu. Ambillah bunga karang di Pantai Selatan, dengan bunga karang itulah, permaisuri akan sembuh.” Kemudian, Pangeran Kartasura segera pulang ke istana dan menanyakan hal suara gaib tersebut pada penasehatnya. “Pantai selatan itu sangat luas. Namun hamba yakin tempat yang dimaksud suara gaib itu adalah wilayah Karang Bolong, di sana banyak terdapat gua karang yang di dalamnya tumbuh bunga karang,” kata penasehat istana dengan yakin.
Keesokannya, Pangeran Kartasura menugaskan Adipati Surti untuk mengambil bunga karang tersebut. Adipati Surti memilih dua orang pengiring setianya yang bernama Sanglar dan Sanglur. Setelah beberapa hari berjalan, akhirnya mereka tiba di karang bolong. Di dalamnya terdapat sebuah gua. Adipati Surti segera melakukan tapanya di dalam gua tersebut. Setelah beberapa hari, Adipati Surti mendengar suara seseorang. “Hentikan semedimu. Aku akan mengabulkan permintaanmu, tapi harus kau penuhi dahulu persyaratanku.” Adipati Surti membuka matanya, dan melihat seorang gadis cantik seperti Dewi dari kahyangan di hadapannya. Sang gadis cantik tersebut bernama Suryawati. Ia adalah abdi Nyi Loro Kidul yang menguasai Laut Selatan.


Syarat yang diajukan Suryawati, Adipati harus bersedia menetap di Pantai Selatan bersama Suryawati. Setelah lama berpikir, Adipati Surti menyanggupi syarat Suryawati. Tak lama setelah itu, Suryawati mengulurkan tangannya, mengajak Adipati Surti untuk menunjukkan tempat bunga karang. Ketika menerima uluran tangan Suryawati, Adipati Surti merasa raga halusnya saja yang terbang mengikuti Suryawati, sedang raga kasarnya tetap pada posisinya bersemedi. “Itulah bunga karang yang dapat menyembuhkan Permaisuri,” kata Suryawati seraya menunjuk pada sarang burung walet. Jika diolah, akan menjadi ramuan yang luar biasa khasiatnya. Adipati Surti segera mengambil sarang burung walet cukup banyak. Setelah itu, ia kembali ke tempat bersemedi. Raga halusnya kembali masuk ke raga kasarnya.
Setelah mendapatkan bunga karang, Adipati Surti mengajak kedua pengiringnya kembali ke Kartasura. Pangeran Kartasura sangat gembira atas keberhasilan Adipati Surti. “Cepat buatkan ramuan obatnya,” perintah Pangeran Kartasura pada pada abdinya. Ternyata, setelah beberapa hari meminum ramuan sarang burung walet, Permaisuri menjadi sehat dan segar seperti sedia kala. Suasana Kesultanan Kartasura menjadi ceria kembali. Di tengah kegembiraan tersebut, Adipati Surti teringat janjinya pada Suryawati. Ia tidak mau mengingkari janji. Ia pun mohon diri pada Pangeran Kartasura dengan alasan untuk menjaga dan mendiami karang bolong yang di dalamnya banyak sarang burung walet. Kepergian Adipati Surti diiringi isak tangis para abdi istana, karena Adipati Surti adalah seorang yang baik dan rendah hati.

Adipati Surti mengajak kedua pengiringnya untuk pergi bersamanya. Setelah berpikir beberapa saat, Sanglar dan Sanglur memutuskan untuk ikut bersama Adipati Surti. Setibanya di Karang Bolong, mereka membuat sebuah rumah sederhana. Setelah selesai, Adipati Surti bersemedi. Tidak berapa lama, ia memisahkan raga halus dari raga kasarnya. “Aku kembali untuk memenuhi janjiku,” kata Adipati Surti, setelah melihat Suryawati berada di hadapannya. Kemudian, Adipati Surti dan Suryawati melangsungkan pernikahan mereka. Mereka hidup bahagia di Karang Bolong. Di sana mereka mendapatkan penghasilan yang tinggi dari hasil sarang burung walet yang semakin hari semakin banyak dicari orang.
(SELESAI)

Selasa, 19 Januari 2016

Bom Atom

Seorang sahabat lama bertemu di TRC

Ia mengenalkan dirinya dan Pengalamannya di berbagai Perusahaan yang ternama di bilangan Jakarta.Saat ia bekerja ia tipe orang yang aktif,dan energic.Ia juga ringan tangan dalam membantu teman lamanya bila dalam kesulitan.
Nick namenya fidz.Ia bersama istrinya mampir dan ia kaget melihat foto-foto di dinding Tajammu' Resto n Cafe.Saat itu ia kaget dan kangen melihat wajahku yang sudah lama ga ketemu. Saya pun ingat dia saat di PMD (Pondok Modern Gontor).

Akhirnya,tanya-tanya ini bagaimana bisa ada Restaurant? Emang..pada kumpul seluruh civitas alumni? he he.. jawabku 'Iya' dari tahun 70an sampai 2014 kemarin. sahutnya 'Subhanallah...ini momentum bisa kumpul bareng lagi' Nuansa diluar sangat berbeda.

Karena jam menunjukkan pada pukul 20.30 saya harus bersiap-siap untuk pulang.Namun,motor diparkiran ga bisa keluar karena ada pelanggan yang makan saat malam itu.Menggurungkan diri untuk pulang. Dan sambil membalas WA grup TrainerLaris Kopdar 23 Jan 2016 #JagoPromosi di Grand Hotel Menteng.

Ia selesai makan,seakan ada rasa ingin ngobrol panjang,ngobrol seputar keluarga dan lainya. Sayapun menunda niat untuk menyalakan motor. Batinku...'ada apa ya..?' okelah...pertanyaan ringan terlontar dari istrinya. Dongengnya tentang apa saja?

Alhamdulillah,banyak sekali dari karakter anak..motivasi,dan sampai urusan keluarga.Suaminyapun bertanya..gimana kalo orang tuanya Posessive dan Protektif? wah..dual yang berbeda namun bisa sama maknanya.

Saya Jawab setelah mendengar cerita dan masalah yang mereka hadapi.Bom waktu dalam keluarga bila tidak ada sahabat yg dapat menjadi pendengar dan solver dalam masalahnya akan menjadi BOM ATOM yang membuat keluarga berantakan. Keduanya bekerja,putrinya bersama neneknya.Kebayangkan hati dan pikiran mereka akan selalu ada pada anak.

Tuntutan kerjalah yang membuat mereka tidak dapat optimal dalam bermain bersama putrinya hanya weekend saja. Penjelasanku,umumnya orang tua ada khawatir kepada pasangannya masing-masing.Ga percaya,ga yakin apa yang dikatakan keduanya.Sulit ya..bila keduanya saling tidak percaya dalam komunikasi.Apalagi berusia muda..'

Siapa yang bisa menjaga diri kita masing-masing 24 Jam? Bagaimana Menguras penyakit bathin yang berdampak pada keluarga?

Allahlah yang memengang Jiwa & raga kita,Allah yg menjaga diri kita 24 jam.Kenapa kita sebagai pasangan berlebihan,bergantung pada logika kita.Serahkan kepada Allaah Semata.Doa mendoakan satu sama lainya.Lepaskan dalam Ibadah,dalam sujud,dalam do'a yang kita panjatkan.

'Ya Allah Ya Muhaimin Ya Salam..Engkau yang Maha Menjaga,yang Maha Memberi Keselamatan..Jaga suami kami..jaga istri kami yang Engkau amanahkan kpada kami.' Jangan-jangan kita banyak berburuk sangka pada pasangan kita?

Menguras penyakit bathin..yang menutupi hati kita selama hidup dan berumah tangga.Seperti : Prasangka,aib,kata orang,saling menjelekan,bahkan makan uang riba.Kuras dg cara Allaah,apakah sholat kita selalu terjaga? bagaimana puasa sunnah kita,infaq & sedekah kita.

Dari sinilah ada beberapa poin yg mereka dpatkan.Melalaikan Ketaatan sebagai Hamba Allaah!

Pembaca yg budiman..mari kita renungkan dan kita perbaiki keluarga kita dg amal soleh dan kembali pada jalan yang Allah Ridhoi.

Jumat, 01 Januari 2016

Aku ingin BERJUANG




Seorang pemuda belia dari kabilah Aslam sedang termenung sendirian agaknya dia sedang sibuk memikirkan sesuatu yang membebani hatinya. Pemuda itu bertubuh kuat, gagah, penuh gairah untuk menghadapi masa depan yang penuh berbagai tantangan. Badanya tegap dan kuat, sanggup untuk dihadapkan pada perjuangan seperti yang sedang dilakukan oleh yang lain, jihad fisabilillah. Adakah jalan yang lebih afdol dan lebih mulia dari jihad fisabilillah..? Rasa-rasanya tak ada. Sebab itulah satu-satunya jalan jika memang benar-benar telah menjadi tujuan dan niat suci untuk mencari restu dn ridho Allah SWT. “Demi Allah, inilah satu kesempatan yang sangat baik”, kata hati pemuda itu. Yah,…..sebab disana, serombongan kaum muslimin sedang bersiap menuju juang jihad fisabilillah. Sebagian sudah berangkat, sebagian lagi baru datang, dan akan segera berangkat. Semuanya menampakan wajah yang senang, pasrah, dan tenang dengan satu iman yang mendalam. Wajah-wajah mereka membayangkan suatu keyakinan penuh, bahwa sebelum ajal berpantang mati. Maut akan menimpa diman pun kita berada. yakin bahwa umur itu satu. kapan kan sampai batasnya, hanya Allah yang maha tahu. Bagaimana sebab dan kejadianya, takdir Allah lah yang menentukan.
Maut, adalah sesuatu yang tak dapat dihindari manusia. Dia pasti datang menjemput manusia. Entah disaat manusia sedang duduk, diam di rumah, atau mungkin berada dalam perlindungan benteng yang kokoh, mungkin pula sedang bersembunyi ditempat persembunyiannya, di gua yang gelap, di jalan raya yang ramai, ataukah di medan peperangan. Bahkan bukan mustahil maut akan menjemput kala manusia sedang tidur, di atas temapt tidurnya. Semua itu hanya Allah lah yang berkuasa, dan berkehendak atasnya.
Menunggu kedatangan maut memang masa-masa yang paling mendebarkan jiwa. Betapa tidak? Hanya sendirilah yang dapat dibawa menghadap penguasa yang Esa kelak. Medan juang fisabillah tersedia bagi mereka yang kuat. Penuh keberanian dan keikhlasan mencari ridho Allah semata. Mereka yang berjiwa suci ditengah-tengah tubuh yang perkasa. Angan-angan ikhlas yang disertai hati yang bersih. Memang, saat itu keberanian telah menjiwai setiap kalbu kaum muslimin. Panggilan dan dengungan untuk jihad fisabilillah merupakan angan-angan dan tujuan harapan mereka. Mereka yakin, dibalik hiruk-pikuknya peperangan Allah telah menjanjikan imbalan yang setimpal baginya. Selain dengan itu dia dapat membersihkan jiwanya dari berbagi noda. Baik itu berupa noda-noda aqidah, niat-niat jahat, berbagi dosa perbuatan ataupun kekotoran muamalah yang lain. Pengorbanan mereka yang mulia itu menunjukan kepribadian yang baik dan luhur. Semua sesuai dengan ajaran agama yang murni. Pantas menjadi contoh dan teladan, bahkan sebagai mercu suar yang menerangi dunia dan isi alam semesta.
Itulah renungan hati pemuda Aslam yang gagah itu. Sepenuh hati dia berkata seolah kepada diri sendiri. “Harus ! harus dan mesti aku berbut sesuatu. Jangan kemiskinan dan kefakiran ini menjadi hamabtan dan penghalang mencapai tujuanku.”
Mantap, penuh keyakinan dan semangat yang tinggi pemuda tersebut ini menggabungkan diri dengan pasukan kaum muslimin. Usia pemuda itu memang masih belia, namun cara berfikir dan jiwanya cukup matang, kemauanya keras, ketangksan dan kelincahan menjadi jaminan kegesitanya di medan juang. Namun mengapa pemuda yang begitu bersemangat itu tak dapat ikut serta dalam barisan pejuan? Seababnya hanya satu. Dia tidak mempunyai bekal dan senjata apa-apa yang dapat dipakainya untuk berperang karena kemiskinan dan kefakiranya. Sebab pikirnya, tidak mungkin untuk terjuan ke medan perjuangan tanpa senjata apapun. Tanpa senjata dia tidak mampu melakukan apapun. Bahkan dia tidak akan berfungsi apa-apa. Mungkin untuk menyelamatkan diri saja, dia tidak mampu. Inilah yang menjadikan pemuda itu berfikir panjang lebar. Otaknya bekerja keras agar hasratnya yang besar berjuang dapat tercapai.
Setelah tidak juga dicapainya pemecahan, dia pergi menghadap Rasulullah SAW. Diceritakan semua keadaan dan penderitaan serta keinginannya yang besar. Dia memang miskin, fakir dan menderita, namun dia tidk mengharapkan apa-apa dari keikutsertaanya berjaung. Dikatakanya kepada Rasulullah SAW, bahwa dia tidak meminta berbagai pendekatan duniawi kepada Rasulullah; Dia hanya menginginkan bagaimana caranya agar dia dapat masuk barisan pejuang fisabilillah. Mendengar hal demikian, Rasulullah bertanya, setelah dengan cermat meneliti dan memandang pemuda tersebut: “Hai pemuda, sebenarnya apa yang engkau katakan itu dan apa pula yang engkau harapkan?”.
“Saya ingin berjuang, ya Rasulullah!” jawab pemuda itu. “Lalu apa yang menghalangimu untuk melakukan itu”, tanya Rasulullah SAW kemudian. “Saya tidk mempunyai perbekalan apa-apa untuk persiapan perjaungan itu ya Rasulullah”, jawab pemuda tersebut terus terang. Alangkah tercengangnya Rasulullah mendengar jawaban itu. Cermat diawasinya wajah pemuda tersebut. Wajah yang berseri-seri, tanpa ragu dan penuh keberanian menghadap maut, sementara disana banyak kaum munafikin yang hatinya takut dan gentar apabila terdengar panggilan seruan untuk berjaung jihad fisabilillah.




Demi Allah! jauh benar perbedaan pemuda itu dengan para munafiqin di sana. Kaum munafiqin yang dihinggapi rasa rendah diri, selalu mementingkan diri-sendiri. Mereka tidak suka dan tidak mau memikul beban dan tanggung jawab demi kebenaran yang hakiki. Kaum yang tidak senang hidup dalam alam kedamaian dan ketentraman dlam ajaran agama yang benar. Mereka lebih suka berada dalam hidup dan suasana kegelapan dan kekalutan. Ibarat kuman-kuman kotor, yang hidupnya hanya untuk mengacau dan menghancurkan apa saja. Celakalah mereka yang besar dan tegap badan serta tubuhnya namun licik dan kerdil pikiran serta hatinya.
Kebanggaanlah bagimu yang tepat hai pemuda! semogalah Allah banyak menciptakan manusia-manusia sepertimu. Yang dapat menjadi generasi penerusmu. Yang akan menjunjung tinggi kemulyaan Islam, budi pekerti yang mulia menuju alam yang bahagia sejahtera lahir batin.
Benar, kaum muslimin sangat memrlukan jiwa yang demikian. Jiwa yang besar penuh keyakinan, dan juga keberanian yang mantap. Sepantasnya pemuda seperti dari kabilah Aslam itu mendapat segala keperluan serta keinginanya untuk melaksanakan hasrat cita-cita keinginan itu. Rasulullah SAW akhirnya berkata kepada pemuda Aslam tersebut: “Pergilah engkau kepada si Fulan! Dia yang sebenarnya sudah siap lengkap dengan perlatan berperang tapi tidak jadi berangkat karena sakit. Nah pergilah kepadanya dan mintalah perlengkapan yang ada padanya.”
Pemuda itu pun bergegas menemui orang yang ditunjukan Rasulullah SAW tadi. Katanya kepada si Fulan: “Rasulullah SAW menyampaikan salam padamu juga pesan. Beliau berpesan agar perlengkapan perang yang engkau miliki yang tidak jadi engkau pakai pergi berperang agar diserahkan kepadaku.” Orang yang tidak jadi berperang itu penuh hormat menjalankan perintah Rasulullah SAW sambil mengucapkan: “Selamat datang wahai utusan Rasulullah! Saya hormati dan taati segala perintah Rasulullah SAW.”
Segera dia menyuruh istrinya untuk mengambil pakaian dan peralatan perang yang tidak jadi dipakainya. Diserahkan semua itu pada pemuda kabilah Aslam. Sambil mengucapkan terima kasih pemuda tersebut menerima perlengkapan itu. Sebelum dia berangkat dan meninggalkan rumah itu, pemuda tersebut sempat berucap: “Terima kasih sebesar-besarnya. Anda telah menghilangkan seluruh duka dan keputusasaanku. Bagimu pahala Allah yang besar tiada taranya. Terima kasih………Terima kasih.”
Pemuda suku Aslam itu kemudian keluar dengan riang. Wajahnya bersinar gembira. Dengan berlari-lari dia meningalkan rumah orang yang tidak jadi berperang itu. Di tengah jalan pemuda tersebut bertemu dengan salah satu temanya yang keheranan dan bengong. Tanyanya: “Hai, hendak kemana engkau?”, “Aku akan menuju janntul firdaus yang selebar langit dan bumi”, jawab pemuda itu dengan singkat dan tepat.
(SELESAI)